Gambar: Ist/Ilustrasi
EKSKLUSIF.CO - Dugaan penyelewengan pupuk bersubsidi kembali menimbulkan keresahan di Kabupaten Simalungun, khususnya di Kecamatan Hutabayu Raja, terutama di Nagori Raja Maligas. Isu ini muncul setelah kelangkaan pupuk bersubsidi yang diperuntukkan bagi kelompok tani disinyalir masyarakat disebabkan oleh kecurangan yang dilakukan oleh para "agen pengecer".
Menurut salah satu anggota Kelompok Petani yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan, saat ini desanya sedang menerapkan pola tanam padi di sawah sehingga petani sangat membutuhkan pupuk untuk pertumbuhan tanaman padi, namun akibat dari kelangkaan pupuk di desa Raja Maligas membuat para petani merasa cemas.
Dia menambahkan bahwa di desa tersebut terdapat tiga agen ritel pupuk bersubsidi seperti UD SURYA TANI, UD LESTARI, UD PODANA, sementara 18 kelompok tani di Desa Raja Maligas juga mempertanyakan di mana pupuk tersebut berada.
Ia juga mengakui bahwa pihaknya (kelompok petani) sebelumnya telah mengunjungi ketiga agen pengecer pupuk bersubsidi di desa tersebut. Namun, mereka (para pengecer) selalu berdalih bahwa pupuk tersebut belum tiba dari distributor, namun masyarakat tidak begitu saja mempercayai apa yang dikatakan oleh ketiga agen pengecer tersebut.
"Sekarang, para petani takut pupuk itu dijual ke luar daerah. Karena sebagian masyarakat ada yang melihat pupuk sudah masuk bulan Desember tahun lalu. Kami, para petani di Nagori (Desa) Maligas, meminta pemerintah untuk memperhatikan hal ini," katanya melalui WhatsApp pada Jumat (3/4/2026).
Ketika eksklusif.co melakukan konfirmasi kepada ketiga pengecer, UD SURYA TANI, UD LESTARI, dan UD PODANA melalui WhatsApp, pada Minggu (5/4/2026), Doan Sitorus, salah satu agen ritel pemilik kios UD LESTARI, membantah isu tersebut. Ia berdalih bahwa stok di Gudang Penyangga tidak mencukupi. Hal ini, kata Doan, telah dikonfirmasi langsung oleh kantor distributor.
"Pernyataan yang ditujukan pada kios tersebut jelas tidak benar, dikarenakan stok di Gudang Penyangga belum memadai, dan hal itu telah dikonfirmasi langsung oleh pihak kantor distributor. Terima kasih," kata Doan.
Selain itu, Doan juga mengirimkan sejumlah keluhan dari petani dan pemilik kios melalui tangkapan layar grup WhatsApp Kios Hutabayu Raja, dengan melampirkan bukti bahwa stok pupuk memang sangat terbatas:
Sementara itu, agen ritel yang memiliki kios pupuk bersubsidi, UD Surya Tani, Ambarita, meminta media untuk menghubungi distributor.
"Mohon maaf pak, hubungi distributor aja, kenapa pupuk langkah, pupuk yg di berikan ke agen udah kami salurkan ke masyrakat. Trimakasih," ujar Ambarita, Minggu (5/4/2026).
Sebagai informasi, dalam konferensi pers awal Januari lalu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa distribusi pupuk bersubsidi pada hari pertama tahun 2026 berjalan lancar.
PT Pupuk Indonesia Pastikan Stok Pupuk Bersubsidi Aman
Rahmad Pribadi menyatakan bahwa keberhasilan itu menunjukkan komitmen Pupuk Indonesia untuk memastikan ketersediaan pupuk bagi petani.
Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2025. Peraturan Presiden tersebut mengatur perjanjian kontrak dengan pemerintah terkait pengadaan 9,8 juta ton pupuk bersubsidi untuk tahun anggaran 2026 bagi sektor pertanian dan perikanan. Lebih lanjut, peraturan ini juga menjadi landasan keterjangkauan pupuk bagi petani.
Ia menjelaskan bahwa terdapat 208 transaksi penebusan pupuk bersubsidi dari petani terdaftar di sejumlah provinsi seperti Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, NTB, dan Marauke Papua Selatan.
Stok Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Simalungun
Informasi terbaru yang diperoleh eksklusif.co, pada tahun 2026 Kabupaten Simalungun mendapatkan kuota stok pupuk bersubsidi sebesar 24,137 ton urea, 28.829 ton NPK, dan 1.938 ton pupuk organik.
Meskipun demikian, pasokan pupuk bersubsidi di Kabupaten Simalungun, termasuk Desa Raja Maligas, dilaporkan langka dari bulan Februari hingga Maret. Kelangkaan ini menyebabkan para petani di daerah tersebut khawatir akan gagal panen. (Ris)





No comments:
Post a Comment