Menteri Paling Moncer yang Tiba-Tiba Ditendang, Efisiensi dan Bersih-Bersih Pajak Jadi Biang Kerok?
JAKARTA, EKSKLUSIF.CO - Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto tidak serta-merta menutup karier politiknya. Justru sebaliknya, ini bisa menjadi awal dari manuver yang lebih besar menuju 2029.
Pantauan eksklusif.co di lapangan, modal politik Purbaya justru menguat pasca pemecatan. Kedekatan emosionalnya dengan masyarakat kelas bawah semakin terasa, apalagi proses pemberhentiannya dinilai publik tidak beretika dan mengejutkan.
Di tengah persepsi negatif terhadap istana, simpati itu adalah bahan bakar politik paling mahal.
Menteri Paling Moncer yang Tiba-Tiba Ditendang
Sebelum dicopot, Purbaya adalah anomali di Kabinet Merah Putih.
Catatan eksklusif.co, ia tercatat sebagai figur dengan persepsi kinerja terbaik di antara seluruh menteri. Popularitasnya tinggi, approval ratingnya solid, terutama karena gebrakan-gebrakannya yang pro-rakyat.
Ironisnya, di puncak popularitas itulah ia justru didepak dan digantikan oleh Suahasil Nazara.
Keputusan ini yang membuat publik bertanya-tanya. Mengapa menteri berkinerja terbaik justru disingkirkan? Narasi inilah yang kemudian berbalik menjadi simpati massif.
Efisiensi dan Bersih-Bersih Pajak Jadi Biang Kerok?
Selama menjabat, Purbaya dikenal tidak main-main.
Tiga langkah radikalnya menjadi sorotan: efisiensi anggaran besar-besaran, perombakan ratusan pejabat di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai, hingga membenahi sistem integrasi pajak Coretax yang selama ini bermasalah.
Langkah bersih-bersih inilah yang diduga menyulut konflik internal.
Dikutip dari Reuters, pergantian Purbaya dipicu konflik terkait rotasi pejabat di Kemenkeu. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama dan Dirjen Pajak Bimo Wijayanto disebut keberatan karena tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut sumber Reuters, Djaka bahkan menyampaikan keberatan tersebut langsung kepada Presiden Prabowo. Perlu dicatat, keduanya merupakan pejabat pilihan Prabowo. Djaka sendiri diketahui pernah menjadi bagian dari tim pasukan khusus yang dipimpin Prabowo saat masih berdinas di militer.
Meski Djaka membantah adanya konflik sebelum pencopotan Purbaya, dan pihak Bimo serta Istana bungkam, sinyal retaknya internal Kemenkeu sudah tercium kuat.
Bumerang Politik Bagi Istana
Analis menilai, proses pemecatan yang terkesan tidak lazim ini berpotensi menjadi bumerang politik bagi pemerintah.
Alih-alih meredam, pencopotan Purbaya justru berpotensi melahirkan kekuatan perlawanan politik baru. Figur yang tadinya berada di dalam sistem, kini berada di luar sistem dengan dukungan moral publik.
Jika simpati publik ini berhasil dikonsolidasikan dengan baik setelah tidak lagi berada di kabinet, ruang politik Purbaya akan semakin terbuka lebar.
Dengan kinerja teknokratis yang diakui dan tingkat penerimaan publik yang tinggi, Purbaya memiliki semua modal untuk menjadi figur alternatif dalam kontestasi 2029. Ia tidak lagi sekadar mantan Menkeu, tapi bisa menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap oligarki birokrasi.
Tentu, semua bergantung pada satu hal: langkah politik apa yang akan diambil Purbaya selanjutnya. Apakah ia akan diam dan kembali ke dunia profesional, atau justru memanfaatkan momentum ini untuk membangun kendaraan politiknya sendiri?
Yang jelas, 2029 masih jauh, tapi panggung sudah disiapkan. Dan Purbaya, yang baru saja didepak, justru kini berada di sorotan paling terang.
(Tim/redaksiEksklusif.co)



No comments:
Post a Comment