Suasana penyerahan berkas pendaftaran Calon Ketua PWI Jawa Barat. Kang Andhy yang didampingi tim menyerahkan dokumen ke panitia Konferprov PWI Jabar 2026, Jumat (31/7/2026).
BANDUNG, EKSKLUSIF.CO — Di tengah riuh pemberitaan digital dan tekanan ekonomi pada insan pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat bersiap memilih nahkoda baru. Salah satu nama yang maju, H. Hardiyansyah, S.H., atau Kang Andhy, membawa tawaran berbeda: PWI tidak hanya mengurus berita, tapi juga mengurus perut dan masa depan anggotanya.
Jumat (31/7/2026) pukul 14.00 WIB, berkas pendaftaran Kang Andhy diterima panitia Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Jawa Barat 2026. Ketua OC Roberto Purba dan Sekretaris OC Zaenal Ihsan yang menerima. Konferprov sendiri akan digelar 12–13 Agustus 2026 di Hotel Horison Ultima Bandung.
Bagi Kang Andhy, ini bukan sekadar kontestasi. Ini soal menjawab kegelisahan yang lama mengendap di kalangan wartawan daerah.
Latar: Wartawan dan Dua Tantangan Besar
Siapa Kang Andhy? Ia dikenal sebagai advokat dan pegiat organisasi. Jam terbangnya di dunia hukum dan advokasi membuat ia sering bersinggungan dengan persoalan wartawan: dari legalitas, intimidasi, hingga jaminan sosial.
Dari sanalah ia melihat dua tantangan besar PWI Jabar saat ini.
Pertama, kesejahteraan. Di era platform digital, banyak media konvensional terseok. Honor kecil, PHK, dan tidak adanya jaminan kesehatan keluarga menjadi cerita umum. "Banyak wartawan hebat, tapi keluarganya kesulitan. Ini harus kita putus," ujarnya.
Kedua, adaptasi digital dan global. Wartawan dituntut menguasai multimedia, data, hingga bahasa asing. Sementara pelatihan dan jejaring masih terbatas di lingkup nasional. "Kalau kita tidak go internasional, kita akan tertinggal 10 tahun," katanya.
Program Inti: Dari Ikapeksi Hingga Kuliah ke Luar Negeri
Dari kegelisahan itu lahir program andalannya. Program pertama menyasar ekonomi. Kang Andhy menggandeng Ikatan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Ikapeksi). Tujuannya membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi keluarga wartawan.
"Organisasi profesi tidak bisa hanya pidato soal kode etik. Kita harus buka akses ekonomi. Istri wartawan bisa punya usaha, anaknya bisa kerja. Baru wartawannya bisa fokus menulis," tegasnya.
Program kedua adalah peningkatan kapasitas. Ia mendorong PWI Jabar menjalin kerja sama dengan kampus, lembaga pelatihan, hingga institusi di luar negeri. Mulai dari pelatihan jurnalisme data, fact-checking, sampai beasiswa singkat dan magang media internasional.
"Bayangkan kalau ada 20 wartawan Jabar yang magang di media Singapura, Malaysia, atau Jepang setiap tahun. Mereka pulang bawa ilmu, bawa jaringan. Kualitas media kita akan naik kelas," ujarnya.
5 Pilar "Rumah Besar" PWI
Visi Kang Andhy dirangkum dalam 5 pilar yang ia sebut sebagai fondasi "Rumah Besar PWI Jawa Barat":
- Solidaritas. Memperkuat ikatan antar anggota. Tidak ada lagi sekat antargenerasi dan antardaerah.
- Profesionalisme. Menjaga kualitas jurnalistik. Pelatihan berkelanjutan dan uji kompetensi masif.
- Kesejahteraan. Fokus pada jaminan sosial, koperasi, dan kerja sama ekonomi seperti dengan Ikapeksi.
- Inovasi. PWI harus jadi laboratorium media. Kuasai AI, podcast, dan jurnalisme solusi.
- Integritas. Menjaga marwah dan martabat organisasi. PWI harus jadi rujukan publik.
Semua itu ia kemas dalam tagline "Satu Tekad, Satu Tujuan: PWI Jawa Barat Maju & Berjaya".
Tantangan di Depan Mata
PWI Jawa Barat adalah PWI provinsi terbesar di Indonesia. Anggotanya tersebar dari Cirebon hingga Pangandaran, dari media cetak hingga digital. Menjaga 5.000 lebih anggota tetap solid adalah pekerjaan rumah besar.
Belum lagi tantangan eksternal. Kepercayaan publik pada media menurun karena banjir hoaks. Regulasi platform digital juga belum berpihak pada media lokal.
"Ini PR kita semua. PWI harus jadi jembatan antara wartawan, pemerintah, dan masyarakat," kata Kang Andhy.
Ia sadar, program-programnya butuh kerja sama. Karena itu ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah provinsi, BUMD, BUMN, dan swasta.
"APBD bisa dipakai untuk pelatihan. BUMN bisa buka CSR untuk koperasi wartawan. Kita jemput bola," ucapnya.
Menutup Kesenjangan
Yang ingin ditawarkan Kang Andhy sederhana: menutup kesenjangan. Kesenjangan antara idealisme jurnalistik dengan realitas ekonomi. Kesenjangan antara wartawan kota besar dengan daerah. Kesenjangan antara wartawan Indonesia dengan dunia.
"Ke depan, PWI harus menjadi rumah besar wartawan yang mampu memperjuangkan kesejahteraan anggota dan keluarganya, termasuk membuka peluang kerja serta pengembangan usaha," tutupnya.
Konferprov Agustus nanti akan menjadi penentu. Apakah PWI Jabar akan tetap berjalan di tempat, atau berani melangkah lebih jauh di bawah komando baru.
Satu hal yang pasti, nama Kang Andhy kini masuk dalam bursa dan membawa narasi yang jarang terdengar di forum organisasi pers: soal kesejahteraan.
Reporter: Riswan Pasaribu
Editor: Yura



No comments:
Post a Comment